Wednesday, February 6, 2013

Bertukar Budaya hingga Toleransi

GEMA-Kegiatan studi bahasa dan budaya Indonesia antara Universitas Deakin Australia dengan Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang betul-betul terasa. Pada malam apresiasi pentas seni dan budaya, sejumlah mahasiswa asing asal Australia tersebut menampilkan berbagai macam kesenian khas budaya Indonesia. Mulai dari seni musik karawitan, tari topeng Malangan, tari Banyuwangi, tari saman dari Aceh, hingga menyanyi laskar pelangi yang dipopulerkan oleh Nidji dan kawan-kawannya (2/2).
Suasana nampak semakin cair, saat ketua rombongan Deakin, Prof. Dr. Aristair memberikan sambutannya dalam kegiatan tersebut. Dia mewakili negara Australia mengucapkan terimakasih yang mendalam telah memberikan banyak hal terhadap anak didiknya. Sehingga, pengalaman yang berharga ini akan diajarkan kepada mahasiswa dan para pelajar yang ada di Australia.
“Indonesia di Australia terkenal dengan keramahannya dan aneka ragam seni dan budayanya,” harapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Humaniora dan Budaya, Dr. K.H. Chamzawi menegaskan bahwa, kegiatan ini sangat baik sekali, mahasiswa UIN Maliki bisa salaing bertukar budaya dan ilmu dengan mahasiswa Deakin University Australia. Dan tentunya kami menyadari bahwa selama kegiatan berlangusng pasti banyak kendala dan kekurangan yang terjadi di lapangan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini akan terus berlanjut, karena kegiatan seperti ini jarang dilakukan dan ini juga akan mengajarkan pada kita semua untuk terus menjalin rasa toleransi antar budaya, suku dan ras yang berbeda,” ungkapnya. 

Gemuruh Shalawat di UIN Maliki

GEMA-Lagi, Seluruh Sivitas Akademika UIN Maliki Malang mengundang ribuan jama’ah shalawat Riyadul Jannah Karang Ploso Malang yang diketuai oleh Gus Abdur Rohim Asyadzily untuk bershalawat di UIN Maliki dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad SAW (1/2).
Tepat pukul 19.30 WIB lantunan shalawat bergemuruh dari ribuan jama’ah yang dengan khidmat membaca shalawat Sibdud Duror. Shalawat yang langsung dipimpin oleh para habaib dan dewan kiai itu selesai pukul 00.30 WIB.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Maliki Prof. Dr. H. Imam Suprayogo merasa sangat bahagia sekali UIN Maliki bisa melantunkan shalawat bersama masyarakat. Kegiatan seperti ini mestinya harus sering dilakukan agar rasa persaudaraan dan jalinan tali silaturahim tetap terjaga. “Kampus UIN Maliki ini bukanlah milik saya, akan tetapi milik kita semua,” paparnya pada ribuan jama’ah shalawat yang hadir.
Saya ingin, tambah Imam, kedepan kampus UIN Maliki ini menjadi pusat kemajuan Islam. Oleh karena itu, upaya untuk menyiapkan generasi yang qurani sudah dilakukan UIN Maliki melalui penjaringan mahasiswa yang hafal Alquran. Selain itu juga, bagi mahasiswa yang ingin berkuliah sambil menghafalkan Alquran di sini (UIN Maliki, Red) akan dibimbing dan dibina langsung oleh HTQ yang diketuai oleh KH.Imam Muslimin. “Itu semua bertujuan agar kampus ini menjadi berkah dan warga kampusnya menjadi baik,” harapnya.
Sementara itu, dalam ceramahnya, Habib Fajri Ismail bin Abdullah al Athas asal Jakarta itu menjelaskan bahwa Majelis Riyadul Jannah ini tidaklah hanya untuk membaca shalawat dan zikir saja. Akan tetapi, juga sebagai media untuk mencari ilmu.
Ilmu itu berbeda dengan informasi. Ilmu itu adalah cahaya yang dipancarkan oleh Allah untuk menerangi hati manusia, dan ilmu itu dilakukan melalui proses talaqqi. Misalnya saja seperti apa yang disampaikan oleh Habib Ali Muhammad Bin Habsy pengarang Sibdud Duror ini, beliau mengatakan bahwa bershalawat itu salah satu cara untuk mengajari hati dalam bertalaqqi kepada Rasulullah. “Shalawat yang dibaca menjadi media untukmenghubungkan hati pada ruh Nabi Muhammad SAW,” terangnya.
Pembacaaan shalawat secara istiqomah akan berdampak pada perenggangan hati, karena di dalamnya ada cahaya kecintaan kepada nabi Muhammad SAW. Maka, jika itu dilakukan hati kita akan lebih mudah mendapatkan cahaya hidayah, ma’unah dan taufiq dari Allah SWT.
Misalnya saja proses fotosintesis tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki daun kecil pada saat menghadap matahari makan sinar yang ditangkap pun sedikit. Akan tetapi, jika daunnya besar dan lebar maka proses fotosintesisnya pun akan mempercepat terhadap perkembangan pertumuhan tersebut.
Begitu juga manusia, jika setiap saat hati manusia selalu diisi dengan bacaan zikir dan bertaalluq kepada Allah maka hati kita akan mendapat nur ilahi yang akan merubah diri kita semua menjadi lebih baik. Hal itu juga bisa dilakukan memalui majlis zikir dan ta’lim kepada para ulama’. “Informasi yang diterima oleh diri kita akan diterima oleh otak dan hati kita akan merekam dan meninggalkan bekas. Semakin sering dipupuk dengan kebaikan maka akan menjadi baik pulah hati kita,” jelasnya tegas.
Contohnya saja, kata dia, orang Surabaya yang pindah ke Jakarta selama bertahun-tahun maka lahjahnya (gaya berbicara) akan berganti menjadi bahasa betawi, dan itu sudah menjadi hukum alam. Begitu juga dengan membiasakan hati kita untuk selalu berzikir dan bershalawat, maka lama-kelamaan hati kita akan semakin tenang dan damai karna pancaran nur ilahi. “Dengan cara bersahalawat selama 40 malam, maka kita akan mendapatkan kenikmatan tersendiri,” terangnya serius kepada ribuan jamaah Riyadul Jannah dan Sivitas Akademika UIN Maliki di gedung Sport Center Lt.2.  

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost Coupons