GEMA-Lagi,
Seluruh Sivitas Akademika UIN Maliki Malang mengundang ribuan jama’ah
shalawat Riyadul Jannah Karang Ploso Malang yang diketuai oleh Gus Abdur
Rohim Asyadzily untuk bershalawat di UIN Maliki dalam rangka
memperingati maulid Nabi Muhammad SAW (1/2).
Tepat pukul 19.30
WIB lantunan shalawat bergemuruh dari ribuan jama’ah yang dengan khidmat
membaca shalawat Sibdud Duror. Shalawat yang langsung dipimpin oleh
para habaib dan dewan kiai itu selesai pukul 00.30 WIB.
Dalam
sambutannya, Rektor UIN Maliki Prof. Dr. H. Imam Suprayogo merasa
sangat bahagia sekali UIN Maliki bisa melantunkan shalawat bersama
masyarakat. Kegiatan seperti ini mestinya harus sering dilakukan agar
rasa persaudaraan dan jalinan tali silaturahim tetap terjaga. “Kampus
UIN Maliki ini bukanlah milik saya, akan tetapi milik kita semua,”
paparnya pada ribuan jama’ah shalawat yang hadir.
Saya
ingin, tambah Imam, kedepan kampus UIN Maliki ini menjadi pusat
kemajuan Islam. Oleh karena itu, upaya untuk menyiapkan generasi yang
qurani sudah dilakukan UIN Maliki melalui penjaringan mahasiswa yang
hafal Alquran. Selain itu juga, bagi mahasiswa yang ingin berkuliah
sambil menghafalkan Alquran di sini (UIN Maliki, Red) akan dibimbing dan
dibina langsung oleh HTQ yang diketuai oleh KH.Imam Muslimin. “Itu
semua bertujuan agar kampus ini menjadi berkah dan warga kampusnya
menjadi baik,” harapnya.
Sementara
itu, dalam ceramahnya, Habib Fajri Ismail bin Abdullah al Athas asal
Jakarta itu menjelaskan bahwa Majelis Riyadul Jannah ini tidaklah hanya
untuk membaca shalawat dan zikir saja. Akan tetapi, juga sebagai media
untuk mencari ilmu.
Ilmu
itu berbeda dengan informasi. Ilmu itu adalah cahaya yang dipancarkan
oleh Allah untuk menerangi hati manusia, dan ilmu itu dilakukan melalui
proses talaqqi. Misalnya saja seperti apa yang disampaikan oleh Habib
Ali Muhammad Bin Habsy pengarang Sibdud Duror ini, beliau mengatakan
bahwa bershalawat itu salah satu cara untuk mengajari hati dalam
bertalaqqi kepada Rasulullah. “Shalawat yang dibaca menjadi media
untukmenghubungkan hati pada ruh Nabi Muhammad SAW,” terangnya.
Pembacaaan
shalawat secara istiqomah akan berdampak pada perenggangan hati, karena
di dalamnya ada cahaya kecintaan kepada nabi Muhammad SAW. Maka, jika
itu dilakukan hati kita akan lebih mudah mendapatkan cahaya hidayah,
ma’unah dan taufiq dari Allah SWT.
Misalnya
saja proses fotosintesis tumbuhan. Tumbuhan yang memiliki daun kecil
pada saat menghadap matahari makan sinar yang ditangkap pun sedikit.
Akan tetapi, jika daunnya besar dan lebar maka proses fotosintesisnya
pun akan mempercepat terhadap perkembangan pertumuhan tersebut.
Begitu
juga manusia, jika setiap saat hati manusia selalu diisi dengan bacaan
zikir dan bertaalluq kepada Allah maka hati kita akan mendapat nur ilahi
yang akan merubah diri kita semua menjadi lebih baik. Hal itu juga bisa
dilakukan memalui majlis zikir dan ta’lim kepada para ulama’.
“Informasi yang diterima oleh diri kita akan diterima oleh otak dan hati
kita akan merekam dan meninggalkan bekas. Semakin sering dipupuk dengan
kebaikan maka akan menjadi baik pulah hati kita,” jelasnya tegas.
Contohnya
saja, kata dia, orang Surabaya yang pindah ke Jakarta selama
bertahun-tahun maka lahjahnya (gaya berbicara) akan berganti menjadi
bahasa betawi, dan itu sudah menjadi hukum alam. Begitu juga dengan
membiasakan hati kita untuk selalu berzikir dan bershalawat, maka
lama-kelamaan hati kita akan semakin tenang dan damai karna pancaran nur
ilahi. “Dengan cara bersahalawat selama 40 malam, maka kita akan
mendapatkan kenikmatan tersendiri,” terangnya serius kepada ribuan
jamaah Riyadul Jannah dan Sivitas Akademika UIN Maliki di gedung Sport
Center Lt.2.